Sabtu, 30 Juli 2011

Ayah, Anak dan Burung Gereja



Pada suatu sore, seorang ayah yang sudah tua bersama seorang anaknya yang baru menyelesaikan kuliahnya duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar rumah mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah burung sambil bertanya,
“Nak, burung apakah itu?”
“Burung gereja”, jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian si ayah mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat,
“Itu burung gereja, Ayah!” ujarnya agak keras.
Beberapa saat kemudian si ayah bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Si anak merasa bingung dengan pertanyaan sama yang diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,
“BURUNG GEREJA!!”
Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah,
“Itu burung gereja, Ayah…!”
Si anak semakin heran dan kesal karena si ayah sekali lagi bertanya dengan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak!!
Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya hal yang sama dan saya juga sudah memberikan jawabannya. Itu burung gereja, BURUNG GEREJA, Ayah…..!!” kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah lalu bangun dan menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama miliknya.
“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah.
Si anak setuju dan membaca tulisan dalam diary tersebut.
Hari ini aku bermain bersama anakku yang berumur 5 tahun di halaman. Tiba-tiba seekor burung gereja  hinggap di sebuah pohon. Anakku terus menunjuk ke arahnya dan bertanya,
“Ayah, apa itu?”
Dan aku menjawab, “Burung gereja.”
Anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya hal yang sama, tapi demi cinta dan sayangnya aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga.
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,
” Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah hilang sabar dan marah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar